Sabtu, 10 Oktober 2020

Membaca Hati untuk Menerima

 "Apa yang telah ditakdirkan untukmu pasti tidak akan meleset sejauh apapun dirimu menghindar. Begitupun sebaliknya, apa yang tidak ditakdirkan untukmu pasti tidak akan menimpamu.”

Saya teringat suatu nasihat, bahwa fitrah hati itu seharusnya tenang, lapang, dan ridha. Ridha menerima ketetapannya. Jika sudah mampu menata hati untuk menerima, hati akan lapang apapun kondisinya. Jika sempit pun hanya sebentar.

Mungkin akan terasa ketika belum mampu mengelola rasa menerima hati, imbasnya bisa kemana-mana. Lain bila sudah bisa menerima. Hati kita lapang. Hati kita lebih mudah membaca. “Ini gue lagi kesel ya?”, “Ini kenapa ya, kok gelisah bat”. Jadi kita bisa menuju kondisi tenang lebih cepat dibanding saat kita belum menerima.

Menerima itu hemat saya, skill membaca dan menata kondisi hati, utamanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah menerima apa yang Allah berikan atau belum? Menerima karena semua yang terjadi udah pasti karena Allah izinkan. Maka hormati izinNya. Bandingkan kita kita tidak menerima, lalu menggugat. “Whe Me?”, “Kenapa?”, “Salah gue apa?”. Nggak bakal bisa membaca hikmah kalau start-nya aja udah kaya gini.

Bukannya bermaksud menggurui warganet, tapi sebagai pengingat untuk pribadi. Diri ini pun begitu terkadang, masih terus belajar menerima keadaan yang “katanya” tidak sesuai kehendak hati. Kalau mau diungkit, “harusnya” momen wisuda tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Rasa manusiawi bergejolak setelah menunda 1 tahun lamanya. Sebenarnya biasa aja, tapi kelihatannya ini momen tersendiri bagi orang tua, dan keluarga besar yang setiap bulan mempertanyakan, “kapan wisuda?”.

Ahh sudahlah, untuk apa diungkit-ungkit? Malu sama Allah, siapa saya ngatur-ngatur Allah hehe. Semua sudah atas skenario Allah. Dan itulah yang terbaik. InsyaAllah..