Dunia ini memang tempatnya ujian. Selesai ujian yang satu maka akan datang ujian berikutnya. Ujian ini merupakan cara Allah untuk menyayangi hamba-hambanya. Dan cara Allah untuk meninggikan derajat hamba-hambanya.
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji" (QS. Al Ankabut : 2)
Oleh sebab itu, jadilah orang yang tahan menghadapi berbagai ujian. Allah akan uji kamu, ujian kecil. Kalau kau sangka bahwa engkau merasakan ujian yang besar, Allah katakan dalam Qur'an kecil. Yang pertama apa? Takut. Yang pertama kali tertanam dalam hati manusia adalah takut. Takut tertangkap, takut mati, takut emak-emak, takut kehilangan, takut macam-macam. Maka, hilangkan takut dengan selalu dekat kepada Allah SWT.
Ibnu Athaillah berkata,
“Bebaskan dirimu dari kekhawatiran setelah kau merencanakan, jangan bebani dirimu dengan apa yang sudah dikerjakan Allah untukmu.”
Kamis, 30 April 2020
Rabu, 29 April 2020
#6 Cerdas Beramal
Ibnu Athaillah berkata,
"Semakin lama, hitungan harimu memang semakin banyak. Tapi pada hakikatnya, setiap hari berkurang terus dan semakin mendekati batas akhir, kematian."
Kalau boleh saya buat sebuah garis yang sangat panjang dari ujung kiri ke ujung kanan, kawan-kawan bisa membayangkan garis ini kira-kira menggambarkan kehidupan kita, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, beranjak dewasa dan sampai dengan hari ini. Kalau misalnya saya teruskan garis ini, terus dan terus, maka ujungnya adalah kematian. Itu adalah sebuah kepastian, hal yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Mau kaya, miskin, sehat, sakit, pejabat, gelandangan, nu, muhammadiyah, apapun itu ujung-ujungnya pasti mati.
Ada sebuah nasihat menarik, bahwa kita harus cerdas dalam beramal shalih. Maksudnya begini, ada orang shalat; shalat-shalat fardhu, shalat tahajud, shalat witir. Cerdas? Belum tentu, karena setelah dia selesai shalat, misalnya mati, habis mati, amalnya ngga mengalir. Orang yang rajin shalat, sehabis mati putus. Baca Yasin, baca Al Kahfi, baca Qur'an, setelah meninggal dunia maka putus pula ia.
Tapi kalau cerdas, beramallah dengan cerdas. Jadikan setiap amalan kita, aktivitas kita, apapun itu bisa menjadi jalan kebaikan untuk orang banyak. Hanya dengan begitu kita bisa memperoleh pahala kebaikan dengan skala yang massif. Amal jariyah inilah salahsatu persiapan kita menghadapi hari kematian.
Dan bulan ramadhan ini sebetulnya sebuah momentum. Momentum bagi diri kita agar setiap pahala kebaikan kita dilipat gandakan. Momentum untuk memperoleh pahala dengan skala yang sangat massif. Plus berharap dan berusaha mendapatkan sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangkan bagaimana setiap amalan kita bagaikan beramal selama 80 tahun tanpa henti. Mumpung masih ramadhan, yuk kita coba maksimalkan :)
"Semakin lama, hitungan harimu memang semakin banyak. Tapi pada hakikatnya, setiap hari berkurang terus dan semakin mendekati batas akhir, kematian."
Kalau boleh saya buat sebuah garis yang sangat panjang dari ujung kiri ke ujung kanan, kawan-kawan bisa membayangkan garis ini kira-kira menggambarkan kehidupan kita, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, beranjak dewasa dan sampai dengan hari ini. Kalau misalnya saya teruskan garis ini, terus dan terus, maka ujungnya adalah kematian. Itu adalah sebuah kepastian, hal yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Mau kaya, miskin, sehat, sakit, pejabat, gelandangan, nu, muhammadiyah, apapun itu ujung-ujungnya pasti mati.
Ada sebuah nasihat menarik, bahwa kita harus cerdas dalam beramal shalih. Maksudnya begini, ada orang shalat; shalat-shalat fardhu, shalat tahajud, shalat witir. Cerdas? Belum tentu, karena setelah dia selesai shalat, misalnya mati, habis mati, amalnya ngga mengalir. Orang yang rajin shalat, sehabis mati putus. Baca Yasin, baca Al Kahfi, baca Qur'an, setelah meninggal dunia maka putus pula ia.
Tapi kalau cerdas, beramallah dengan cerdas. Jadikan setiap amalan kita, aktivitas kita, apapun itu bisa menjadi jalan kebaikan untuk orang banyak. Hanya dengan begitu kita bisa memperoleh pahala kebaikan dengan skala yang massif. Amal jariyah inilah salahsatu persiapan kita menghadapi hari kematian.
Dan bulan ramadhan ini sebetulnya sebuah momentum. Momentum bagi diri kita agar setiap pahala kebaikan kita dilipat gandakan. Momentum untuk memperoleh pahala dengan skala yang sangat massif. Plus berharap dan berusaha mendapatkan sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangkan bagaimana setiap amalan kita bagaikan beramal selama 80 tahun tanpa henti. Mumpung masih ramadhan, yuk kita coba maksimalkan :)
Selasa, 28 April 2020
#5 Bersabarlah, dan Kuatkan Kesabaranmu
"Dan teruslah konsisten dengan bersabar; karena sesungguhnya Allah tidak pernah menghilangkan pahala orang-orang yang suka berbuat kebaikan"
Merupakan sunnatullah bahwa perjalanan di jalan cintaNya adalah perjalanan yang panjang, melelahkan dan menuntut pengorbanan waktu, tenaga, fikiran, harta bahkan nyawa. Justru di situlah akan ditemukan nilai dan harga sebuah perjalanan yang sangat mahal. Tanpa itu, maka perjalanan ini akan kehilangan ruh dan eksistensinya
Inilah jalan yang sama yang telah ditempuh oleh generasi awal umat ini dan yang harus ditempuh oleh umat Islam dalam setiap generasi. Inilah jalan keimanan, jalan perjuangan yang penuh ujian dan cobaan, serta jalan kesabaran dan istiqomah.
Maka tidaklah memadai bagi seorang mukmin dengan hanya berjuang, melainkan juga harus siap dan bersabar menanggung tugas-tugas yang berkesinambungan. Terlebih lagi bersabar atas trubulasi harian yang tidak akan pernah berhenti; bersabar untuk senantiasa komitmen di atas landasan iman; bersabar disaat kebathilan berkuasa; bersabar atas panjangnya jalan dan banyaknya onak duri yang menghadang; bersabar atas keinginan beristirahat dan berhenti sejenak; dan bersabar meraih surga yang penuh dengan kepayahan dan jalan terjal yang mendaki. Semuanya untuk meraih keteguhan iman yang mengantarkan pelakunya layak berada dalam shaf para penghuni surga Allah SWT.
Merupakan sunnatullah bahwa perjalanan di jalan cintaNya adalah perjalanan yang panjang, melelahkan dan menuntut pengorbanan waktu, tenaga, fikiran, harta bahkan nyawa. Justru di situlah akan ditemukan nilai dan harga sebuah perjalanan yang sangat mahal. Tanpa itu, maka perjalanan ini akan kehilangan ruh dan eksistensinya
Inilah jalan yang sama yang telah ditempuh oleh generasi awal umat ini dan yang harus ditempuh oleh umat Islam dalam setiap generasi. Inilah jalan keimanan, jalan perjuangan yang penuh ujian dan cobaan, serta jalan kesabaran dan istiqomah.
Maka tidaklah memadai bagi seorang mukmin dengan hanya berjuang, melainkan juga harus siap dan bersabar menanggung tugas-tugas yang berkesinambungan. Terlebih lagi bersabar atas trubulasi harian yang tidak akan pernah berhenti; bersabar untuk senantiasa komitmen di atas landasan iman; bersabar disaat kebathilan berkuasa; bersabar atas panjangnya jalan dan banyaknya onak duri yang menghadang; bersabar atas keinginan beristirahat dan berhenti sejenak; dan bersabar meraih surga yang penuh dengan kepayahan dan jalan terjal yang mendaki. Semuanya untuk meraih keteguhan iman yang mengantarkan pelakunya layak berada dalam shaf para penghuni surga Allah SWT.
Senin, 27 April 2020
#4 Jangan Berputus Asa, Kawan!
Merasa berputus asa? Merasa kotor dan penuh dosa? Merasa dicampakkan Allah?
Tentu itu sering dialami banyak orang, dan itu hal yang alamiah. Orang sering melakukan perbuatan dosa kadang hanya karena kelalaian, atau mungkin juga karena ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri. Keadaan semacem itu kemudian diratapi dan disesali. Dan tentu saja kondisi semacam itu masih baik; bila masih ada gerak dan dorongan dari dalam batin untuk kembali kepangkuan dan kasih sayang Allah SWT. Karena tidak semua orang mendapatkan hidayah semacam ini; ada perasaan berdosa dan bersalah.
Sebagaimana sering terjadi dan dialami, biasanya bersamaan dengan munculnya kerinduan untuk kembali, kadang muncul perasaan was-was, timbul prasangka dan muncul pesimistis, "emang Allah mau memaafkan gue ya?"
Padahal Allah SWT telah mendeklarasikan bahwa Dirinya adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sudah berjanji akan menerima segala bentuk permintaan maaf dan taubat. Dan ingatlah, bahwah Allah SWT adalah Dzat yang tidak pernah mengingkari janjinya. Tidak pernah!
So, jika kita sudah mengetahui betapa Allah SWT sangat Kasih dan Sayang kepada hamba-hambanya yang tergelincir dosa, kenapa kita tidak bersegera memohon ampunan-Nya? Tidak pernah berputus asa mengharap Kasih dan Sayangnya?
Aji mumpung ini bulan ramadhan, yok perbanyak istighfar pada Allah. Astaghfirullahal'azhiim
Tentu itu sering dialami banyak orang, dan itu hal yang alamiah. Orang sering melakukan perbuatan dosa kadang hanya karena kelalaian, atau mungkin juga karena ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri. Keadaan semacem itu kemudian diratapi dan disesali. Dan tentu saja kondisi semacam itu masih baik; bila masih ada gerak dan dorongan dari dalam batin untuk kembali kepangkuan dan kasih sayang Allah SWT. Karena tidak semua orang mendapatkan hidayah semacam ini; ada perasaan berdosa dan bersalah.
Sebagaimana sering terjadi dan dialami, biasanya bersamaan dengan munculnya kerinduan untuk kembali, kadang muncul perasaan was-was, timbul prasangka dan muncul pesimistis, "emang Allah mau memaafkan gue ya?"
Padahal Allah SWT telah mendeklarasikan bahwa Dirinya adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sudah berjanji akan menerima segala bentuk permintaan maaf dan taubat. Dan ingatlah, bahwah Allah SWT adalah Dzat yang tidak pernah mengingkari janjinya. Tidak pernah!
So, jika kita sudah mengetahui betapa Allah SWT sangat Kasih dan Sayang kepada hamba-hambanya yang tergelincir dosa, kenapa kita tidak bersegera memohon ampunan-Nya? Tidak pernah berputus asa mengharap Kasih dan Sayangnya?
Aji mumpung ini bulan ramadhan, yok perbanyak istighfar pada Allah. Astaghfirullahal'azhiim
#3 Bersyukur Sepanjang Hari, Bersyukur Setiap Saat
Ada begitu banyak hal yang perlu kita syukuri...
.
Apa kabar hari ini?
Sudahkah mengucap Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah diri ini terima sepanjang hari?
.
Mari mengucap Alhamdulillah untuk…
Sehatnya raga dan jiwa sehingga bisa melakukan banyak hal,
Jernihnya akal dan pemikiran yang memacu produktivitas diri,
Hati yang masih berada dalam kebaikan dan sadar akan dosa.
.
Sudahkah mengucap syukur atas…
Adanya teman seperjuangan yang selalu berikhtiar bersama untuk visi yang sama,
Adanya mereka, yang senantiasa sabar dengan diri ini yang penuh dengan kekurangan,
Adanya mereka, yang tak henti-hentinya mengingatkan atas segala lupa dan salah.
.
Sudahkah kita bersyukur..
Atas kebaikan dari Allah yang Maha Baik,
Atas nikmat tak terhingga yang Allah berikan bahkan ketika diri ini banyak dilumuri dosa.
.
Sudahkah kamu memberikan sebaik-baiknya ikhtiar sebagai rasa syukur atas segala nikmat itu?
Sudahkah kamu shalat dengan penuh kekhusyuan sebagai bentuk syukur atas tubuh dan akal yang sehat?
Sudahkah kamu melakukan hal-hal yang bermanfaat sebagai rasa syukur atas nikmat waktu luang?
.
Bagaimana kualitas ibadah kita, setelah kita sadar akan nikmat-nikmat Allah?
Ada banyak hal yang perlu kita syukuri, dan ada ikhtiar yang perlu kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur itu..
.
Jangan lupa mengucap Alhamdulillah untuk segala nikmat yang kita terima..
Dan mengucap Bismillah untuk setiap detik, menit, jam, dan hari yang akan dijalani ke depan..
.
Karena Allah sayang kita:)
.
Apa kabar hari ini?
Sudahkah mengucap Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah diri ini terima sepanjang hari?
.
Mari mengucap Alhamdulillah untuk…
Sehatnya raga dan jiwa sehingga bisa melakukan banyak hal,
Jernihnya akal dan pemikiran yang memacu produktivitas diri,
Hati yang masih berada dalam kebaikan dan sadar akan dosa.
.
Sudahkah mengucap syukur atas…
Adanya teman seperjuangan yang selalu berikhtiar bersama untuk visi yang sama,
Adanya mereka, yang senantiasa sabar dengan diri ini yang penuh dengan kekurangan,
Adanya mereka, yang tak henti-hentinya mengingatkan atas segala lupa dan salah.
.
Sudahkah kita bersyukur..
Atas kebaikan dari Allah yang Maha Baik,
Atas nikmat tak terhingga yang Allah berikan bahkan ketika diri ini banyak dilumuri dosa.
.
Sudahkah kamu memberikan sebaik-baiknya ikhtiar sebagai rasa syukur atas segala nikmat itu?
Sudahkah kamu shalat dengan penuh kekhusyuan sebagai bentuk syukur atas tubuh dan akal yang sehat?
Sudahkah kamu melakukan hal-hal yang bermanfaat sebagai rasa syukur atas nikmat waktu luang?
.
Bagaimana kualitas ibadah kita, setelah kita sadar akan nikmat-nikmat Allah?
Ada banyak hal yang perlu kita syukuri, dan ada ikhtiar yang perlu kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur itu..
.
Jangan lupa mengucap Alhamdulillah untuk segala nikmat yang kita terima..
Dan mengucap Bismillah untuk setiap detik, menit, jam, dan hari yang akan dijalani ke depan..
.
Karena Allah sayang kita:)
#2 Ter-untuk Kamu
Teruntuk Kamu
Yang tak melihat dirimu di antara gemerlapan bintang
Mungkin sering kamu lihat
Cahaya mereka begitu indah
Membuat kamu terkagum
Betapa hebatnya dia
Semalam dua malam
Lagi dan lagi
Membuat kamu berpikir
Yang kamu lakukan bukanlah apa-apa
Membuat kamu berpikir
Kenapa aku malah melakukan ini?
Kamu sibuk melihat capaian-capaian mereka
Dan terus berputar dalam pikiran itu
Kawan,
Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Mereka malah sibuk mengejar capaian selanjutnya
Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Orang yang tak masuk dalam penglihatanmu
Ternyata sedang berjibaku dengan dirinya sendiri
Sampai keesokannya, kamu baru sadar dia telah lebih dulu tumbuh
Kawan,
Yuk berhenti membandingkan capaianmu dengan orang lain
Buatlah mimpimu sendiri
Kalau kamu tidak melihat dirimu di antara bintang-bintang,
Itu karena kamu adalah matahari.
Jangan lupa, untuk cek kembali niat dan tujuan dalam mimpi kita.
Adakah Allah di sana?
Perbolehkan aku mengutip pesan dari Mba Dewi Nur Aisyah,
"Jika semua orang kagum padamu, tapi Allah tidak, adakah yang kau dapatkan? Jika Allah kagum padamu, tapi semua orang tidak, adakah hal yang hilang?"
Yang tak melihat dirimu di antara gemerlapan bintang
Mungkin sering kamu lihat
Cahaya mereka begitu indah
Membuat kamu terkagum
Betapa hebatnya dia
Semalam dua malam
Lagi dan lagi
Membuat kamu berpikir
Yang kamu lakukan bukanlah apa-apa
Membuat kamu berpikir
Kenapa aku malah melakukan ini?
Kamu sibuk melihat capaian-capaian mereka
Dan terus berputar dalam pikiran itu
Kawan,
Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Mereka malah sibuk mengejar capaian selanjutnya
Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Orang yang tak masuk dalam penglihatanmu
Ternyata sedang berjibaku dengan dirinya sendiri
Sampai keesokannya, kamu baru sadar dia telah lebih dulu tumbuh
Kawan,
Yuk berhenti membandingkan capaianmu dengan orang lain
Buatlah mimpimu sendiri
Kalau kamu tidak melihat dirimu di antara bintang-bintang,
Itu karena kamu adalah matahari.
Jangan lupa, untuk cek kembali niat dan tujuan dalam mimpi kita.
Adakah Allah di sana?
Perbolehkan aku mengutip pesan dari Mba Dewi Nur Aisyah,
"Jika semua orang kagum padamu, tapi Allah tidak, adakah yang kau dapatkan? Jika Allah kagum padamu, tapi semua orang tidak, adakah hal yang hilang?"
#1 Yuk Produktif
Mulai hari ini, kita harus menyadari ya wahai diri, bahwa waktu yang kita punya jauh lebih sedikit daripada kewajiban yang harus kita tunaikan.
Amanah itu adalah sebuah keniscayaan. Amanah adalah kewajiban yang harus kita tunaikan. Amanah itu juga tidak melulu soal jabatan. Seminimalnya orang bilang ngga punya amanah, dia tetap memiliki amanah terhadap dirinya, saudaranya, keluarganya, hartanya, juga ilmunya, karena itulah peran kita sebagai seorang hamba.
Maka, sudah seharusnya tidak ada waktu sedetikpun yang kita lalui setiap harinya melainkan semuanya bermanfaat.
Apalagi sekarang #dirumahaja. Jangan sampai kemuliaan bulan Ramadhan tergadaikan dengan godaan-godaan yang melenakan.
Amanah itu adalah sebuah keniscayaan. Amanah adalah kewajiban yang harus kita tunaikan. Amanah itu juga tidak melulu soal jabatan. Seminimalnya orang bilang ngga punya amanah, dia tetap memiliki amanah terhadap dirinya, saudaranya, keluarganya, hartanya, juga ilmunya, karena itulah peran kita sebagai seorang hamba.
Maka, sudah seharusnya tidak ada waktu sedetikpun yang kita lalui setiap harinya melainkan semuanya bermanfaat.
Apalagi sekarang #dirumahaja. Jangan sampai kemuliaan bulan Ramadhan tergadaikan dengan godaan-godaan yang melenakan.
Selasa, 07 April 2020
Maksimalkan Ikhtiar dan Totalitas dalam Tawakkal
Maksudnya begini, dari kalimat tersebut setidaknya dibagi jadi 2 bagian:
1) Percaya dan berserah diri, menyandarkan urusan, hanya pada Allah, dan
2) Melakukan sebab (ikhtiar).
Hilang satu dari dua hal tersebut bisa dibilang cacat setiap prosesnya.
Jika kita hanya melakukan poin nomor satu, dan ngga melakukan poin nomor dua (ikhtiar), itu seolah kita menyuruh Allah SWT menyelesaikan semua permasalahan kita, tapi kita-nya diem-diem saja. Ibaratnya mah itu kayak memperlakukan Allah SWT seperti pembantu, kita suruh-suruh, tapi kitanya diem ngga berusaha. Bukannya Allah SWT ngga bisa menyelesaikan masalah kita, tapi attitude kita terhadap-Nya yang salah.
Pun jika kita cuma memaksimalkan ikhtiar, poin nomor dua, lalu bergantung pada ikhtiar tanpa adanya rasa bergantung dan pengakuan akan kelemahan diri dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT, maka kita akan jatuh setidaknya pada satu dari dua jurang. Kekecewaan yang menjatuhkan ketika kita diberi kegagalan, atau kesombongan yang melenakan ketika kita diberi keberhasilan. Bahkan ketika kita merasa ikhtiar kita sudah maksimal, pekerjaan kita anggap enteng, dan merasa bahwa kita mestinya bisa menyelesaikan masalah dengan maksimal, perasaan itu harus segera kita singkirkan. Diganti dengan rasa tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.
1) Percaya dan berserah diri, menyandarkan urusan, hanya pada Allah, dan
2) Melakukan sebab (ikhtiar).
Hilang satu dari dua hal tersebut bisa dibilang cacat setiap prosesnya.
Jika kita hanya melakukan poin nomor satu, dan ngga melakukan poin nomor dua (ikhtiar), itu seolah kita menyuruh Allah SWT menyelesaikan semua permasalahan kita, tapi kita-nya diem-diem saja. Ibaratnya mah itu kayak memperlakukan Allah SWT seperti pembantu, kita suruh-suruh, tapi kitanya diem ngga berusaha. Bukannya Allah SWT ngga bisa menyelesaikan masalah kita, tapi attitude kita terhadap-Nya yang salah.
Pun jika kita cuma memaksimalkan ikhtiar, poin nomor dua, lalu bergantung pada ikhtiar tanpa adanya rasa bergantung dan pengakuan akan kelemahan diri dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT, maka kita akan jatuh setidaknya pada satu dari dua jurang. Kekecewaan yang menjatuhkan ketika kita diberi kegagalan, atau kesombongan yang melenakan ketika kita diberi keberhasilan. Bahkan ketika kita merasa ikhtiar kita sudah maksimal, pekerjaan kita anggap enteng, dan merasa bahwa kita mestinya bisa menyelesaikan masalah dengan maksimal, perasaan itu harus segera kita singkirkan. Diganti dengan rasa tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.
Langganan:
Postingan (Atom)