Klo menengok sedikit pada kisah perang badr zaman Rasulullah SAW. Salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa Allah SWT menurunkan sakinah, atau ketenangan kepada kaum muslimin dengan cara banyak mengingat Allah. Peristiwa ini, hati kaum muslimin bersih betul dari penyakit hati. Semua pikiran, jiwa, harta dan darah utk perjuangan Allah dan rasulnya tanpa embel-embel perkara dunia. Jadi klo berkaca pada peristiwa setelahnya pada perang uhud, salah satu faktor kekalahannya ya ini, yaitu kebersihan hati. Dan makanya berkaitan dengan sakinah pada saat itu, kaum muslimin diberikan kenikmatan tidur yang sangat nyenyak pada malam hari dalam situasi yang begitu genting, pada perang badr.
Pada intinya, sakinah itu bisa kita peroleh dengan jalan banyak mengingat Allah. Melalui lingkaran-lingkaran kecil kita (apatuh wkw), melalui majelis ilmu, sholat dsbnya. Makanya dalam hadits juga disebutkan ketika seseorang hendak bermajelis maka Allah curah-curahkan rahmat kepadanya, Allah naungi dengan sayap malaikat-malaikatnya, Allah turunkan sakinah kepadanya, dan seterusnya dan seterusnya. Atau dalam Quran surah fusshilat yg biasanya jd ayat langganan utk dihafal, ketika seseorang banyak mengingat Allah, Allah beri ketenangan, hingga dalam hatinya tidak ada rasa takut dan tidak pula mereka bersedih hati.
Ketika dalam situasi wabah penyakit seperti ini, rasa takut, cemas, khawatir, panik mungkin itu menjadi hal yang wajar, tp saya rasa tetap jangan berlebihan, sewajarnya saja. Jangan sampai rasa takut itu melebihi rasa takut kita kepada Allah. Terlalu pede dan berani juga ga baik, padahal jelas dalam situasi seperti ini para Ulama sudah memberikan fatwa nya.
Aneh memang, ketika ada masalah ekonomi orang percaya pada ahli ekonomi. Ketika ada masalah hukum, orang percaya pada ahli hukum. Tapi ketika ada permasalahan ttg agama, maka semua orang ber fatwa..
Maka ikuti ulama-ulama kita, ikuti pemimpin kita, ikuti pemerintah kita. Mengikuti arahan mereka merupakan salahsatu bentuk ikhtiar kira, dan banyak mengingat Allah adalah salah satu bentuk tawakal kita. Makanya ikhtiar dan tawakkal itu selalu disejajarkan. Yaudah gitu, wkw semoga Allah selalu turunkan sakinah, taufik dan perlindungan kedalam kehidupan kita.
Aamiin..
Sabtu, 28 Maret 2020
Kamis, 12 Maret 2020
Ikhlas Beramal
Ada sebuah kisah, mungkin kisah ini cukup masyhur dikalangan kawan-kawan semua. Terlepas kisahnya nyata atau fiktif, terlepas ada kesamaan kisah dengan yang lain itu adalah perkara lain. Yang menjadi titik tekan disini adalah hikmah dari kisahnya. Kurang lebih kisahnya begini,
Ada seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang seeekor ikan arwana merah dengan takjub
Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya..
"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..
"Tidak tahu". Jawab si Santri.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah". Perintah sang Kyai.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang Kyai.
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai.
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi.
"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..
"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai.
"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu.
"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi.
"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
"Berapa ia menawar ikannya?".
"50 juta Rupiah Kyai".
Santri tersebut terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda.
-------------------
Dari kisah tersebut, setidaknya kita bisa mengambil beberapa hikmah, bahwa kita itu akan dinilai dan dihargai dengan benar ketika kita berada di lingkungan yang tepat. Maksudnya begini,
Pertama, kita semua sebenarnya adalah orang biasa dalam pandangan orang yg tidak mengenal kita. Maka jangan baper, juga jangan ke gr an. Kedua kita adalah orang-orang menarik dimata orang yang memahami kita. Dan kita, juga adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang yang mencintai kita
Tapi sebaliknya,
Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi pribadi yang tidak menyukai kita. Juga, kita adalah pribadi yg jahat dalam tatapan orang yg iri dengan kita. Memang pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangan nya masing-masing. Maka jangan berlelah-lelah untuk memoles diri seolah-olah bertampak baik (pencitraan) padahal kenyataannya tidak demikian.
Kalau mau berbuat baik, yaa berbuatlah tanpa harus diketahui orang lain. Yang penting adalah bahwa bagaimana kita berusaha untuk melakukan kebaikan, apapun itu dengan penuh keikhlasan. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.
Ada seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang seeekor ikan arwana merah dengan takjub
Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya..
"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..
"Tidak tahu". Jawab si Santri.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah". Perintah sang Kyai.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang Kyai.
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai.
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi.
"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..
"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai.
"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu.
"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi.
"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
"Berapa ia menawar ikannya?".
"50 juta Rupiah Kyai".
Santri tersebut terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda.
-------------------
Dari kisah tersebut, setidaknya kita bisa mengambil beberapa hikmah, bahwa kita itu akan dinilai dan dihargai dengan benar ketika kita berada di lingkungan yang tepat. Maksudnya begini,
Pertama, kita semua sebenarnya adalah orang biasa dalam pandangan orang yg tidak mengenal kita. Maka jangan baper, juga jangan ke gr an. Kedua kita adalah orang-orang menarik dimata orang yang memahami kita. Dan kita, juga adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang yang mencintai kita
Tapi sebaliknya,
Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi pribadi yang tidak menyukai kita. Juga, kita adalah pribadi yg jahat dalam tatapan orang yg iri dengan kita. Memang pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangan nya masing-masing. Maka jangan berlelah-lelah untuk memoles diri seolah-olah bertampak baik (pencitraan) padahal kenyataannya tidak demikian.
Kalau mau berbuat baik, yaa berbuatlah tanpa harus diketahui orang lain. Yang penting adalah bahwa bagaimana kita berusaha untuk melakukan kebaikan, apapun itu dengan penuh keikhlasan. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.
Sabtu, 07 Maret 2020
Optimisme Melihat Zaman
Hari kiamat itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Terlepas kapan terjadinya apakah udah dekat atau masih jauh itu Allah yang tahu persisnya. Yang pasti kiamat itu makin dekat ga mungkin makin jauh hehe.
Bahwa Islam akan berjaya kembali dan akan memimpin dunia sebelum kiamat terjadi, juga merupakan suatu kepastian. Bukan saya yang menjanjikan. Allah yang menjanjikan. Rasul yang menjanjikan. Maka yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau memiliki saham atau ngga untuk kejayaan Islam yang pasti akan terjadi?
Kalau kita lihat realitas saat ini, rasa-rasanya sulit sekali ummat ini bangkit. Ketika musuh bersatu dan membuat makar untuk mencabik-cabik ummat ini, kita justru sibuk mempeributkan qunut atau ngga, bid'ah sana, bid'ah sini, bahkan yang paling ekstrim malah mengkafirkan padahal sesama muslim.
Padahal ada prioritas yang lebih besar yang perlu untuk diselesaikan daripada berkutat pada hal yang sifatnya khilafiyah.
Jumlah ummat ini banyak, tapi benar kata Rasul, seperti buih dilautan. Kita hanya eksis memperlihatkan jumlah tapi tidak mempunyai kekuatan.
Nyata-nyatanya, belain muslim Uighur aja ga bisa, belain muslim Rohingya aja ga bisa, belain muslim di India juga ga bisa, apalagi belain muslim di Palestina.
Kayaknya sulit betul ummat ini bangkit.
Tapi kalau melihat sejarah, iyaa sejarah perjalanan ummat ini. Sesuatu yang sifatnya mustahil, dan sulit betul itu.. itu bisa jadi "mungkin". Itulah kenapa saya sangat suka membaca dan mempelajari sejarah.
Ketika kita membaca sejarah masa lampau, kita seperti membaca berbagai peristiwa masa depan dengan semua rinciannya. Hal itu karena memang peristiwa-peristiwa masa depan tentu tidak akan terjadi kecuali berdasarkan sunnatullah yang telah pasti, yang ditetapkan Allah dalam proses pergantian berbagai bangsa serta perubahan keadaannya.
Dan terkadang kita juga harus memperhatikan, dan melihat visi besar kehidupan ini. Kita sedang berjalan dimana, tentu agar mengetahui ke arah mana kita akan sampai. Seorang mukmin yang berakal adalah orang yang tidak memulai dari nol sehingga hanya mengulangi apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Seharusnya mereka cukup memperhatikan sejarah mereka, kemudian berjalan di atas jalan mereka yang benar sehingga ia meraih keberhasilan, dan menghindari jalan mereka yang salah dan keliru.
Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Shalahuddin Al Ayyubi, Saifuddin Qutuz, Muhammad Al Fatih, Maulana Maghribi, Pangeran Diponegoro dan tokoh sejarah lainnya merupakan produk dari pembentukan besar generasi. Karena tidak mungkin suatu tokoh muncul dan datang secara tiba-tiba tanpa sebuah proses, tanpa memenuhi kaidah sebab akibat sebagaimana sunnatullah dalam kehidupan ini.
Lalu, sekarang kembali ke pertanyaan awal, kalau memang kejayaan ummat Islam itu perlu untuk diikhtiarkan, maka mau kah kita ambil bagian dari pembentukkan generasi terbaik itu? Mulai dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai kepada tingkatan tertinggi yaitu ustadziyatul 'alam. Kita butuh sesekali melihat visi besar itu, agar supaya tidak terlelap dengan gemerlapnya keindahan dunia yang menipu. Agar supaya generasi-generasi setelahnya tidak melulu galau, gundah gulana, dan terjebak dalam virus-virus cinta remaja yang menggelincirkan. Serta agar supaya kita bisa menciptakan tokoh-tokoh itu, kalaupun bukan dari rahim keturunan kita, setidaknya hal ini bisa menjadi pelepas tanggung jawab dihadapan Allah, bahwa kita memiliki andil dalam memperjuangkannya.
Ditulis di Pinggiran Danau Kenanga UI
Kamis, 5 Maret 2020
16.45 WIB
Bahwa Islam akan berjaya kembali dan akan memimpin dunia sebelum kiamat terjadi, juga merupakan suatu kepastian. Bukan saya yang menjanjikan. Allah yang menjanjikan. Rasul yang menjanjikan. Maka yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau memiliki saham atau ngga untuk kejayaan Islam yang pasti akan terjadi?
Kalau kita lihat realitas saat ini, rasa-rasanya sulit sekali ummat ini bangkit. Ketika musuh bersatu dan membuat makar untuk mencabik-cabik ummat ini, kita justru sibuk mempeributkan qunut atau ngga, bid'ah sana, bid'ah sini, bahkan yang paling ekstrim malah mengkafirkan padahal sesama muslim.
Padahal ada prioritas yang lebih besar yang perlu untuk diselesaikan daripada berkutat pada hal yang sifatnya khilafiyah.
Jumlah ummat ini banyak, tapi benar kata Rasul, seperti buih dilautan. Kita hanya eksis memperlihatkan jumlah tapi tidak mempunyai kekuatan.
Nyata-nyatanya, belain muslim Uighur aja ga bisa, belain muslim Rohingya aja ga bisa, belain muslim di India juga ga bisa, apalagi belain muslim di Palestina.
Kayaknya sulit betul ummat ini bangkit.
Tapi kalau melihat sejarah, iyaa sejarah perjalanan ummat ini. Sesuatu yang sifatnya mustahil, dan sulit betul itu.. itu bisa jadi "mungkin". Itulah kenapa saya sangat suka membaca dan mempelajari sejarah.
Ketika kita membaca sejarah masa lampau, kita seperti membaca berbagai peristiwa masa depan dengan semua rinciannya. Hal itu karena memang peristiwa-peristiwa masa depan tentu tidak akan terjadi kecuali berdasarkan sunnatullah yang telah pasti, yang ditetapkan Allah dalam proses pergantian berbagai bangsa serta perubahan keadaannya.
Dan terkadang kita juga harus memperhatikan, dan melihat visi besar kehidupan ini. Kita sedang berjalan dimana, tentu agar mengetahui ke arah mana kita akan sampai. Seorang mukmin yang berakal adalah orang yang tidak memulai dari nol sehingga hanya mengulangi apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Seharusnya mereka cukup memperhatikan sejarah mereka, kemudian berjalan di atas jalan mereka yang benar sehingga ia meraih keberhasilan, dan menghindari jalan mereka yang salah dan keliru.
Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Shalahuddin Al Ayyubi, Saifuddin Qutuz, Muhammad Al Fatih, Maulana Maghribi, Pangeran Diponegoro dan tokoh sejarah lainnya merupakan produk dari pembentukan besar generasi. Karena tidak mungkin suatu tokoh muncul dan datang secara tiba-tiba tanpa sebuah proses, tanpa memenuhi kaidah sebab akibat sebagaimana sunnatullah dalam kehidupan ini.
Lalu, sekarang kembali ke pertanyaan awal, kalau memang kejayaan ummat Islam itu perlu untuk diikhtiarkan, maka mau kah kita ambil bagian dari pembentukkan generasi terbaik itu? Mulai dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai kepada tingkatan tertinggi yaitu ustadziyatul 'alam. Kita butuh sesekali melihat visi besar itu, agar supaya tidak terlelap dengan gemerlapnya keindahan dunia yang menipu. Agar supaya generasi-generasi setelahnya tidak melulu galau, gundah gulana, dan terjebak dalam virus-virus cinta remaja yang menggelincirkan. Serta agar supaya kita bisa menciptakan tokoh-tokoh itu, kalaupun bukan dari rahim keturunan kita, setidaknya hal ini bisa menjadi pelepas tanggung jawab dihadapan Allah, bahwa kita memiliki andil dalam memperjuangkannya.
Ditulis di Pinggiran Danau Kenanga UI
Kamis, 5 Maret 2020
16.45 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)