Sabtu, 07 Maret 2020

Optimisme Melihat Zaman

Hari kiamat itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Terlepas kapan terjadinya apakah udah dekat atau masih jauh itu Allah yang tahu persisnya. Yang pasti kiamat itu makin dekat ga mungkin makin jauh hehe.

Bahwa Islam akan berjaya kembali dan akan memimpin dunia sebelum kiamat terjadi, juga merupakan suatu kepastian. Bukan saya yang menjanjikan. Allah yang menjanjikan. Rasul yang menjanjikan. Maka yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau memiliki saham atau ngga untuk kejayaan Islam yang pasti akan terjadi?

Kalau kita lihat realitas saat ini, rasa-rasanya sulit sekali ummat ini bangkit. Ketika musuh bersatu dan membuat makar untuk mencabik-cabik ummat ini, kita justru sibuk mempeributkan qunut atau ngga, bid'ah sana, bid'ah sini, bahkan yang paling ekstrim malah mengkafirkan padahal sesama muslim.

Padahal ada prioritas yang lebih besar yang perlu untuk diselesaikan daripada berkutat pada hal yang sifatnya khilafiyah.

Jumlah ummat ini banyak, tapi benar kata Rasul, seperti buih dilautan. Kita hanya eksis memperlihatkan jumlah tapi tidak mempunyai kekuatan.

Nyata-nyatanya, belain muslim Uighur aja ga bisa, belain muslim Rohingya aja ga bisa, belain muslim di India juga ga bisa, apalagi belain muslim di Palestina.

Kayaknya sulit betul ummat ini bangkit.

Tapi kalau melihat sejarah, iyaa sejarah perjalanan ummat ini. Sesuatu yang sifatnya mustahil, dan sulit betul itu.. itu bisa jadi "mungkin". Itulah kenapa saya sangat suka membaca dan mempelajari sejarah.

Ketika kita membaca sejarah masa lampau, kita seperti membaca berbagai peristiwa masa depan dengan semua rinciannya. Hal itu karena memang peristiwa-peristiwa masa depan tentu tidak akan terjadi kecuali berdasarkan sunnatullah yang telah pasti, yang ditetapkan Allah dalam proses pergantian berbagai bangsa serta perubahan keadaannya.

Dan terkadang kita juga harus memperhatikan, dan melihat visi besar kehidupan ini. Kita sedang berjalan dimana, tentu agar mengetahui ke arah mana kita akan sampai. Seorang mukmin yang berakal adalah orang yang tidak memulai dari nol sehingga hanya mengulangi apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Seharusnya mereka cukup memperhatikan sejarah mereka, kemudian berjalan di atas jalan mereka yang benar sehingga ia meraih keberhasilan, dan menghindari jalan mereka yang salah dan keliru.

Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Shalahuddin Al Ayyubi, Saifuddin Qutuz, Muhammad Al Fatih, Maulana Maghribi, Pangeran Diponegoro dan tokoh sejarah lainnya merupakan produk dari pembentukan besar generasi. Karena tidak mungkin suatu tokoh muncul dan datang secara tiba-tiba tanpa sebuah proses, tanpa memenuhi kaidah sebab akibat sebagaimana sunnatullah dalam kehidupan ini.

Lalu, sekarang kembali ke pertanyaan awal, kalau memang kejayaan ummat Islam itu perlu untuk diikhtiarkan, maka mau kah kita ambil bagian dari pembentukkan generasi terbaik itu? Mulai dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai kepada tingkatan tertinggi yaitu ustadziyatul 'alam. Kita butuh sesekali melihat visi besar itu, agar supaya tidak terlelap dengan gemerlapnya keindahan dunia yang menipu. Agar supaya generasi-generasi setelahnya tidak melulu galau, gundah gulana, dan terjebak dalam virus-virus cinta remaja yang menggelincirkan. Serta agar supaya kita bisa menciptakan tokoh-tokoh itu, kalaupun bukan dari rahim keturunan kita, setidaknya hal ini bisa menjadi pelepas tanggung jawab dihadapan Allah, bahwa kita memiliki andil dalam memperjuangkannya.


Ditulis di Pinggiran Danau Kenanga UI
Kamis, 5 Maret 2020
16.45 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar