Sabtu, 10 Oktober 2020

Membaca Hati untuk Menerima

 "Apa yang telah ditakdirkan untukmu pasti tidak akan meleset sejauh apapun dirimu menghindar. Begitupun sebaliknya, apa yang tidak ditakdirkan untukmu pasti tidak akan menimpamu.”

Saya teringat suatu nasihat, bahwa fitrah hati itu seharusnya tenang, lapang, dan ridha. Ridha menerima ketetapannya. Jika sudah mampu menata hati untuk menerima, hati akan lapang apapun kondisinya. Jika sempit pun hanya sebentar.

Mungkin akan terasa ketika belum mampu mengelola rasa menerima hati, imbasnya bisa kemana-mana. Lain bila sudah bisa menerima. Hati kita lapang. Hati kita lebih mudah membaca. “Ini gue lagi kesel ya?”, “Ini kenapa ya, kok gelisah bat”. Jadi kita bisa menuju kondisi tenang lebih cepat dibanding saat kita belum menerima.

Menerima itu hemat saya, skill membaca dan menata kondisi hati, utamanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah menerima apa yang Allah berikan atau belum? Menerima karena semua yang terjadi udah pasti karena Allah izinkan. Maka hormati izinNya. Bandingkan kita kita tidak menerima, lalu menggugat. “Whe Me?”, “Kenapa?”, “Salah gue apa?”. Nggak bakal bisa membaca hikmah kalau start-nya aja udah kaya gini.

Bukannya bermaksud menggurui warganet, tapi sebagai pengingat untuk pribadi. Diri ini pun begitu terkadang, masih terus belajar menerima keadaan yang “katanya” tidak sesuai kehendak hati. Kalau mau diungkit, “harusnya” momen wisuda tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Rasa manusiawi bergejolak setelah menunda 1 tahun lamanya. Sebenarnya biasa aja, tapi kelihatannya ini momen tersendiri bagi orang tua, dan keluarga besar yang setiap bulan mempertanyakan, “kapan wisuda?”.

Ahh sudahlah, untuk apa diungkit-ungkit? Malu sama Allah, siapa saya ngatur-ngatur Allah hehe. Semua sudah atas skenario Allah. Dan itulah yang terbaik. InsyaAllah..

Kamis, 24 September 2020

Bend, Not Break

 

Buku ini merupakan memoar atau perjalanan hidup dari sang penulis yaitu Ping Fu, warga negara Amerika yang sebelumnya merupakan orang asli China. Buku ini cukup menggambarkan dengan detail bagaimana perjalanan hidup dari masa kanak-kanak yang berat di China sampai kepada posisi puncak dunia teknologi Amerika. Dengan penulisan cerita alur maju dan mundurnya, disertai dengan gaya bahasa yang mengalir dan enak untuk dibaca, membuat buku ini tidak bosan untuk terus dibaca.

Kisah dalam buku ini cukup bagus untuk dijadikan pelajaran tentang bagaimana belajar dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan kehidupan, pelajaran tentang keuletan untuk membangun hidup lebih baik, hasrat untuk membantu orang lain, serta kegigihan yang sangat besar dan kemampuan bertahan dalam ujian-ujian yang sangat berat dan bertubi-tubi. Sampai mungkin kita akan sampai pada titik “kapan ya ujian ini akan berakhir”.

Satu penggalan nasihat dalam buku ini yang sangat bagus sekali adalah tentang tiga sahabat musim dingin.

Tiga sahabat musim dingin ini digambarkan oleh Pohon Pinus, Pohon Bunga Palm, dan Pohon Bambu. Pohon Pinus memiliki gambaran sifat kuat. Mereka tetap ceria dan hijau sepanjang tahun. Dalam hawa musim panas dan dingin yang tidak tertahankan mereka tetap tak tergoyahkan. Pohon bunga palm digambarkan pohon yang selalu berkilau cemerlang. Kemampuannya untuk mekar di tengah kemalangan menyiratkan harga diri dan kesabaran di bawah tekanan situasi yang berat. Pohon bambu memiliki karakter sangat lentur, menekuk bersama angin tapi tidak patah, mampu beradaptasi dengan keadaan apapun. Memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dari saat-saat paling berat sekalipun.

Tiga sahabat musim dingin ini seolah memberikan penjelasan bahwa dalam hidup ini, tidak akan ada musim panas tanpa musim dingin, tidak ada naik tanpa turun, tidak ada yang tumbuh tanpa ada yang busuk. Kemampuanmu untuk bertahan pada akhirnya tergantung sikapmu terhadap situasi hidupmu. Ketika kamu menjadi tiga sahabat musim dingin ini, kamu akan menghadapi segala persoalan dengan tenang dan anggun, mengedepankan energi saat dibutuhkan, namun dalam hati selalu tetap tenang.

“Walaupun pemandangan terbaik bisa dijumpai di puncak-puncak, justru lembah-lembahlah yang menawarkan kesempatan terbesar untuk pertumbuhan dan perkembangan. Di lembah kita bertani, membuat jalan-jalan, dan merumuskan visi-visi kita mencapai lebih tinggi lagi. Di lembah, kita mengembangkan kegigihan dan memupuk harapan.”

Senin, 29 Juni 2020

I Know That

Pernah dengar kisah bagaimana para imam meriwayatkan hadits?
Demi satu hadits, sampai rela berjalan beribu kilo hanya untuk memastikan keaslian dan keotentikan dari sebuah hadits. Bahkan uniknya, beliau-beliau ini rela berjalan jauh untuk mendapatkan hadits padahal hadits tersebut sudah tau bahkan sudah dihafal.

Trus sia-sia dong?
Jawabannya tentu TIDAK. Karena semua ilmu itu milik Allah, mau sedikit atau banyak tentu akan kembali kepada Allah. Wong milik Allah. Nah beliau-beliau ini menyadari bahwa boleh jadi ada ilmu-ilmu baru yang didapatkan, ilmu yg boleh jadi sebelumnya blm dipahami walaupun dari hadits yang sama (sudah tau, paham dan hafal). Sehingga dengan begitu dapat mencapai pemahaman yang komprehensif dan paripurna.

Saya kira, konsep seperti ini perlu untuk kita adaptasi dalam kehidupan kita. Buang jauh-jauh penyakit "i know that". Walaupun kita pernah menjumpai sesuatu yang sama dan berulang, misalnya kita pernah belajar A, pernah memahami A, ataupun pernah menghafal A. It's oke. Jangan merasa diri paling hebat, paling pinter, paling banyak tau jd ga mau belajar lagi. Padahal repetition is magic. Bukankah untuk menjadi ahli, atau master harus berlatih berulang-ulang? Hehe

Kalaupun ternyata sama, artinya tidak menambah ilmu baru. Jangan berduka. Boleh jadi Allah memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang belum kita tunaikan. Boleh jadi kita baru sekedar tahu, belum mengamalkan. Boleh jadi kita belum lulus diujian itu, jadi harus diuji berulang-ulang sampai lulus dan naik derajat kita.

Dan yang terakhir, jangan sampai lupa, posisikan diri kita layaknya sebagai gelas kosong. Pastikan posisinya lebih rendah. Sebab, air mengalir dari tempat tinggi menuju ke tempat rendah..

Semoga kita bisa terus memperbaiki diri dan terus belajar untuk menjadi pembelajar yang baik dalam hidup ini :)

Sabtu, 02 Mei 2020

#8 Every Beginning is Difficult

Every beginning is difficult.

Kisah-kisah di segala penjuru dunia, menyuguhkan kita awalan-awalan yang rumit. Ya, bayangkan saja jika dari awal sampai akhir kisahnya enak-enak saja, tidak ada sedih dan susah. Tentu bukan suatu nilai kehidupan yang didapat, melainkan kebosanan: tak ada klimaks, tak ada titik puncak permasalahan yang mengantar si tokoh cerita kepada solusi terbaik.

Tak perlu jauh-jauh, kita bisa melihat Sirah Nabawiyah. Nabi Muhammad dilahirkan dalam situasi sulit, Tahun Gajah! Nah, baru lahir saja sudah dalam awal yang sulit kan? Lalu masih dalam usianya yang belia, ibu beliau meninggal dunia. Berlanjut ke "awal" beliau berdakwah begitu banyak siksaan, ujian, tempaan dan fitnah. Itu awal yang penuh dengan kerumitan, kan?

Tapi lihat, bagaimana hal-hal rumit yang terjadi di awal cerita akan berubah menjadi kunci-kunci untuk menyelesaikan akhir yang terbaik.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Begitulah Allah meyakinkan kita.

Coba bayangkan, jika saja Singa (baca: masalah) yang ganas di awal, memaksa Rasulullah kabur, lari, berhenti, dan menyerah. Mungkin akan kita dapati akhir cerita yang tentu berbeda. Naudzubillah.

Every beginning is difficult. Para pawang akan sulit menjinakkan singa di awalnya. Namun, dengan bergantinya hari, akhirnya sang singa "jatuh cinta" dan akrab dengan sang pawang. Maka, jalani awalnya. Jangan lari, jangan takut, juga jangan kabur. Kelak suatu saat nanti kita akan melihat masalah demi masalah tertaklukkan dengan kebanggaan dan kejernihan pikiran kita.

Kamis, 30 April 2020

#7 Dunia Tempatnya Ujian

Dunia ini memang tempatnya ujian. Selesai ujian yang satu maka akan datang ujian berikutnya. Ujian ini merupakan cara Allah untuk menyayangi hamba-hambanya. Dan cara Allah untuk meninggikan derajat hamba-hambanya.

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji" (QS. Al Ankabut : 2)

Oleh sebab itu, jadilah orang yang tahan menghadapi berbagai ujian. Allah akan uji kamu, ujian kecil. Kalau kau sangka bahwa engkau merasakan ujian yang besar, Allah katakan dalam Qur'an kecil. Yang pertama apa? Takut. Yang pertama kali tertanam dalam hati manusia adalah takut. Takut tertangkap, takut mati, takut emak-emak, takut kehilangan, takut macam-macam. Maka, hilangkan takut dengan selalu dekat kepada Allah SWT.

Ibnu Athaillah berkata,
“Bebaskan dirimu dari kekhawatiran setelah kau merencanakan, jangan bebani dirimu dengan apa yang sudah dikerjakan Allah untukmu.”

Rabu, 29 April 2020

#6 Cerdas Beramal

Ibnu Athaillah berkata,
"Semakin lama, hitungan harimu memang semakin banyak. Tapi pada hakikatnya, setiap hari berkurang terus dan semakin mendekati batas akhir, kematian."

Kalau boleh saya buat sebuah garis yang sangat panjang dari ujung kiri ke ujung kanan, kawan-kawan bisa membayangkan garis ini kira-kira menggambarkan kehidupan kita, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, beranjak dewasa dan sampai dengan hari ini. Kalau misalnya saya teruskan garis ini, terus dan terus, maka ujungnya adalah kematian. Itu adalah sebuah kepastian, hal yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Mau kaya, miskin, sehat, sakit, pejabat, gelandangan, nu, muhammadiyah, apapun itu ujung-ujungnya pasti mati.

Ada sebuah nasihat menarik, bahwa kita harus cerdas dalam beramal shalih. Maksudnya begini, ada orang shalat; shalat-shalat fardhu, shalat tahajud, shalat witir. Cerdas? Belum tentu, karena setelah dia selesai shalat, misalnya mati, habis mati, amalnya ngga mengalir. Orang yang rajin shalat, sehabis mati putus. Baca Yasin, baca Al Kahfi, baca Qur'an, setelah meninggal dunia maka putus pula ia.

Tapi kalau cerdas, beramallah dengan cerdas. Jadikan setiap amalan kita, aktivitas kita, apapun itu bisa menjadi jalan kebaikan untuk orang banyak. Hanya dengan begitu kita bisa memperoleh pahala kebaikan dengan skala yang massif. Amal jariyah inilah salahsatu persiapan kita menghadapi hari kematian.

Dan bulan ramadhan ini sebetulnya sebuah momentum. Momentum bagi diri kita agar setiap pahala kebaikan kita dilipat gandakan. Momentum untuk memperoleh pahala dengan skala yang sangat massif. Plus berharap dan berusaha mendapatkan sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangkan bagaimana setiap amalan kita bagaikan beramal selama 80 tahun tanpa henti. Mumpung masih ramadhan, yuk kita coba maksimalkan :)

Selasa, 28 April 2020

#5 Bersabarlah, dan Kuatkan Kesabaranmu

"Dan teruslah konsisten dengan bersabar; karena sesungguhnya Allah tidak pernah menghilangkan pahala orang-orang yang suka berbuat kebaikan"

Merupakan sunnatullah bahwa perjalanan di jalan cintaNya adalah perjalanan yang panjang, melelahkan dan menuntut pengorbanan waktu, tenaga, fikiran, harta bahkan nyawa. Justru di situlah akan ditemukan nilai dan harga sebuah perjalanan yang sangat mahal. Tanpa itu, maka perjalanan ini akan kehilangan ruh dan eksistensinya

Inilah jalan yang sama yang telah ditempuh oleh generasi awal umat ini dan yang harus ditempuh oleh umat Islam dalam setiap generasi. Inilah jalan keimanan, jalan perjuangan yang penuh ujian dan cobaan, serta jalan kesabaran dan istiqomah.

Maka tidaklah memadai bagi seorang mukmin dengan hanya berjuang, melainkan juga harus siap dan bersabar menanggung tugas-tugas yang berkesinambungan. Terlebih lagi bersabar atas trubulasi harian yang tidak akan pernah berhenti; bersabar untuk senantiasa komitmen di atas landasan iman; bersabar disaat kebathilan berkuasa; bersabar atas panjangnya jalan dan banyaknya onak duri yang menghadang; bersabar atas keinginan beristirahat dan berhenti sejenak; dan bersabar meraih surga yang penuh dengan kepayahan dan jalan terjal yang mendaki. Semuanya untuk meraih keteguhan iman yang mengantarkan pelakunya layak berada dalam shaf para penghuni surga Allah SWT.

Senin, 27 April 2020

#4 Jangan Berputus Asa, Kawan!

Merasa berputus asa? Merasa kotor dan penuh dosa? Merasa dicampakkan Allah?

Tentu itu sering dialami banyak orang, dan itu hal yang alamiah. Orang sering melakukan perbuatan dosa kadang hanya karena kelalaian, atau mungkin juga karena ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri. Keadaan semacem itu kemudian diratapi dan disesali. Dan tentu saja kondisi semacam itu masih baik; bila masih ada gerak dan dorongan dari dalam batin untuk kembali kepangkuan dan kasih sayang Allah SWT. Karena tidak semua orang mendapatkan hidayah semacam ini; ada perasaan berdosa dan bersalah.

Sebagaimana sering terjadi dan dialami, biasanya bersamaan dengan munculnya kerinduan untuk kembali, kadang muncul perasaan was-was, timbul prasangka dan muncul pesimistis, "emang Allah mau memaafkan gue ya?"

Padahal Allah SWT telah mendeklarasikan bahwa Dirinya adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sudah berjanji akan menerima segala bentuk permintaan maaf dan taubat. Dan ingatlah, bahwah Allah SWT adalah Dzat yang tidak pernah mengingkari janjinya. Tidak pernah!

So, jika kita sudah mengetahui betapa Allah SWT sangat Kasih dan Sayang kepada hamba-hambanya yang tergelincir dosa, kenapa kita tidak bersegera memohon ampunan-Nya? Tidak pernah berputus asa mengharap Kasih dan Sayangnya?

Aji mumpung ini bulan ramadhan, yok perbanyak istighfar pada Allah. Astaghfirullahal'azhiim

#3 Bersyukur Sepanjang Hari, Bersyukur Setiap Saat

Ada begitu banyak hal yang perlu kita syukuri...
.
Apa kabar hari ini?
Sudahkah mengucap Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah diri ini terima sepanjang hari?
.
Mari mengucap Alhamdulillah untuk…
Sehatnya raga dan jiwa sehingga bisa melakukan banyak hal,
Jernihnya akal dan pemikiran yang memacu produktivitas diri,
Hati yang masih berada dalam kebaikan dan sadar akan dosa.
.
Sudahkah mengucap syukur atas…
Adanya teman seperjuangan yang selalu berikhtiar bersama untuk visi yang sama,
Adanya mereka, yang senantiasa sabar dengan diri ini yang penuh dengan kekurangan,
Adanya mereka, yang tak henti-hentinya mengingatkan atas segala lupa dan salah.
.
Sudahkah kita bersyukur..
Atas kebaikan dari Allah yang Maha Baik,
Atas nikmat tak terhingga yang Allah berikan bahkan ketika diri ini banyak dilumuri dosa.
.
Sudahkah kamu memberikan sebaik-baiknya ikhtiar sebagai rasa syukur atas segala nikmat itu?
Sudahkah kamu shalat dengan penuh kekhusyuan sebagai bentuk syukur atas tubuh dan akal yang sehat?
Sudahkah kamu melakukan hal-hal yang bermanfaat sebagai rasa syukur atas nikmat waktu luang?
.
Bagaimana kualitas ibadah kita, setelah kita sadar akan nikmat-nikmat Allah?
Ada banyak hal yang perlu kita syukuri, dan ada ikhtiar yang perlu kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur itu..
.
Jangan lupa mengucap Alhamdulillah untuk segala nikmat yang kita terima..
Dan mengucap Bismillah untuk setiap detik, menit, jam, dan hari yang akan dijalani ke depan..
.
Karena Allah sayang kita:)

#2 Ter-untuk Kamu

Teruntuk Kamu

Yang tak melihat dirimu di antara gemerlapan bintang

Mungkin sering kamu lihat
Cahaya mereka begitu indah
Membuat kamu terkagum
Betapa hebatnya dia

Semalam dua malam
Lagi dan lagi

Membuat kamu berpikir
Yang kamu lakukan bukanlah apa-apa
Membuat kamu berpikir
Kenapa aku malah melakukan ini?

Kamu sibuk melihat capaian-capaian mereka
Dan terus berputar dalam pikiran itu

Kawan,
Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Mereka malah sibuk mengejar capaian selanjutnya

Ketika kamu sedang sibuk dengan pikiran itu,
Orang yang tak masuk dalam penglihatanmu
Ternyata sedang berjibaku dengan dirinya sendiri
Sampai keesokannya, kamu baru sadar dia telah lebih dulu tumbuh

Kawan,
Yuk berhenti membandingkan capaianmu dengan orang lain
Buatlah mimpimu sendiri

Kalau kamu tidak melihat dirimu di antara bintang-bintang,
Itu karena kamu adalah matahari.

Jangan lupa, untuk cek kembali niat dan tujuan dalam mimpi kita.
Adakah Allah di sana?

Perbolehkan aku mengutip pesan dari Mba Dewi Nur Aisyah,
"Jika semua orang kagum padamu, tapi Allah tidak, adakah yang kau dapatkan? Jika Allah kagum padamu, tapi semua orang tidak, adakah hal yang hilang?"

#1 Yuk Produktif

Mulai hari ini, kita harus menyadari ya wahai diri, bahwa waktu yang kita punya jauh lebih sedikit daripada kewajiban yang harus kita tunaikan.

Amanah itu adalah sebuah keniscayaan. Amanah adalah kewajiban yang harus kita tunaikan. Amanah itu juga tidak melulu soal jabatan. Seminimalnya orang bilang ngga punya amanah, dia tetap memiliki amanah terhadap dirinya, saudaranya, keluarganya, hartanya, juga ilmunya, karena itulah peran kita sebagai seorang hamba.

Maka, sudah seharusnya tidak ada waktu sedetikpun yang kita lalui setiap harinya melainkan semuanya bermanfaat.

Apalagi sekarang #dirumahaja. Jangan sampai kemuliaan bulan Ramadhan tergadaikan dengan godaan-godaan yang melenakan.

Selasa, 07 April 2020

Maksimalkan Ikhtiar dan Totalitas dalam Tawakkal

Maksudnya begini, dari kalimat tersebut setidaknya dibagi jadi 2 bagian:

1) Percaya dan berserah diri, menyandarkan urusan, hanya pada Allah, dan
2) Melakukan sebab (ikhtiar).
Hilang satu dari dua hal tersebut bisa dibilang cacat setiap prosesnya.

Jika kita hanya melakukan poin nomor satu, dan ngga melakukan poin nomor dua (ikhtiar), itu seolah kita menyuruh Allah SWT menyelesaikan semua permasalahan kita, tapi kita-nya diem-diem saja. Ibaratnya mah itu kayak memperlakukan Allah SWT seperti pembantu, kita suruh-suruh, tapi kitanya diem ngga berusaha. Bukannya Allah SWT ngga bisa menyelesaikan masalah kita, tapi attitude kita terhadap-Nya yang salah.

Pun jika kita cuma memaksimalkan ikhtiar, poin nomor dua, lalu bergantung pada ikhtiar tanpa adanya rasa bergantung dan pengakuan akan kelemahan diri dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT, maka kita akan jatuh setidaknya pada satu dari dua jurang. Kekecewaan yang menjatuhkan ketika kita diberi kegagalan, atau kesombongan yang melenakan ketika kita diberi keberhasilan. Bahkan ketika kita merasa ikhtiar kita sudah maksimal, pekerjaan kita anggap enteng, dan merasa bahwa kita mestinya bisa menyelesaikan masalah dengan maksimal, perasaan itu harus segera kita singkirkan. Diganti dengan rasa tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.

Sabtu, 28 Maret 2020

Sakinah / Ketenangan Hati

Klo menengok sedikit pada kisah perang badr zaman Rasulullah SAW. Salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa Allah SWT menurunkan sakinah, atau ketenangan kepada kaum muslimin dengan cara banyak mengingat Allah. Peristiwa ini, hati kaum muslimin bersih betul dari penyakit hati. Semua pikiran, jiwa, harta dan darah utk perjuangan Allah dan rasulnya tanpa embel-embel perkara dunia. Jadi klo berkaca pada peristiwa setelahnya pada perang uhud, salah satu faktor kekalahannya ya ini, yaitu kebersihan hati. Dan makanya berkaitan dengan sakinah pada saat itu, kaum muslimin diberikan kenikmatan tidur yang sangat nyenyak pada malam hari dalam situasi yang begitu genting, pada perang badr.

Pada intinya, sakinah itu bisa kita peroleh dengan jalan banyak mengingat Allah. Melalui lingkaran-lingkaran kecil kita (apatuh wkw), melalui majelis ilmu, sholat dsbnya. Makanya dalam hadits juga disebutkan ketika seseorang hendak bermajelis maka Allah curah-curahkan rahmat kepadanya, Allah naungi dengan sayap malaikat-malaikatnya, Allah turunkan sakinah kepadanya, dan seterusnya dan seterusnya. Atau dalam Quran surah fusshilat yg biasanya jd ayat langganan utk dihafal, ketika seseorang banyak mengingat Allah, Allah beri ketenangan, hingga dalam hatinya tidak ada rasa takut dan tidak pula mereka bersedih hati.

Ketika dalam situasi wabah penyakit seperti ini, rasa takut, cemas, khawatir, panik mungkin itu menjadi hal yang wajar, tp saya rasa tetap jangan berlebihan, sewajarnya saja. Jangan sampai rasa takut itu melebihi rasa takut kita kepada Allah. Terlalu pede dan berani juga ga baik, padahal jelas dalam situasi seperti ini para Ulama sudah memberikan fatwa nya.

Aneh memang, ketika ada masalah ekonomi orang percaya pada ahli ekonomi. Ketika ada masalah hukum, orang percaya pada ahli hukum. Tapi ketika ada permasalahan ttg agama, maka semua orang ber fatwa..

Maka ikuti ulama-ulama kita, ikuti pemimpin kita, ikuti pemerintah kita. Mengikuti arahan mereka merupakan salahsatu bentuk ikhtiar kira, dan banyak mengingat Allah adalah salah satu bentuk tawakal kita. Makanya ikhtiar dan tawakkal itu selalu disejajarkan. Yaudah gitu, wkw semoga Allah selalu turunkan sakinah, taufik dan perlindungan kedalam kehidupan kita.
Aamiin..

Kamis, 12 Maret 2020

Ikhlas Beramal

Ada sebuah kisah, mungkin kisah ini cukup masyhur dikalangan kawan-kawan semua. Terlepas kisahnya nyata atau fiktif, terlepas ada kesamaan kisah dengan yang lain itu adalah perkara lain. Yang menjadi titik tekan disini adalah hikmah dari kisahnya. Kurang lebih kisahnya begini,

Ada seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang seeekor ikan arwana merah dengan takjub

Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya..
"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..
"Tidak tahu". Jawab si Santri.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah". Perintah sang Kyai.

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang Kyai.
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai.
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap.

"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi.
"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..

"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai.
"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu.

"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi.
"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa ia menawar ikannya?".
"50 juta Rupiah Kyai".

Santri tersebut terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda.

-------------------
Dari kisah tersebut, setidaknya kita bisa mengambil beberapa hikmah, bahwa kita itu akan dinilai dan dihargai dengan benar ketika kita berada di lingkungan yang tepat. Maksudnya begini,

Pertama, kita semua sebenarnya adalah orang biasa dalam pandangan orang yg tidak mengenal kita. Maka jangan baper, juga jangan ke gr an. Kedua kita adalah orang-orang menarik dimata orang yang memahami kita. Dan kita, juga adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang yang mencintai kita

Tapi sebaliknya,

Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi pribadi yang tidak menyukai kita. Juga, kita adalah pribadi yg jahat dalam tatapan orang yg iri dengan kita. Memang pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangan nya masing-masing. Maka jangan berlelah-lelah untuk memoles diri seolah-olah bertampak baik (pencitraan) padahal kenyataannya tidak demikian.

Kalau mau berbuat baik, yaa berbuatlah tanpa harus diketahui orang lain. Yang penting adalah bahwa bagaimana kita berusaha untuk melakukan kebaikan, apapun itu dengan penuh keikhlasan. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

Sabtu, 07 Maret 2020

Optimisme Melihat Zaman

Hari kiamat itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Terlepas kapan terjadinya apakah udah dekat atau masih jauh itu Allah yang tahu persisnya. Yang pasti kiamat itu makin dekat ga mungkin makin jauh hehe.

Bahwa Islam akan berjaya kembali dan akan memimpin dunia sebelum kiamat terjadi, juga merupakan suatu kepastian. Bukan saya yang menjanjikan. Allah yang menjanjikan. Rasul yang menjanjikan. Maka yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau memiliki saham atau ngga untuk kejayaan Islam yang pasti akan terjadi?

Kalau kita lihat realitas saat ini, rasa-rasanya sulit sekali ummat ini bangkit. Ketika musuh bersatu dan membuat makar untuk mencabik-cabik ummat ini, kita justru sibuk mempeributkan qunut atau ngga, bid'ah sana, bid'ah sini, bahkan yang paling ekstrim malah mengkafirkan padahal sesama muslim.

Padahal ada prioritas yang lebih besar yang perlu untuk diselesaikan daripada berkutat pada hal yang sifatnya khilafiyah.

Jumlah ummat ini banyak, tapi benar kata Rasul, seperti buih dilautan. Kita hanya eksis memperlihatkan jumlah tapi tidak mempunyai kekuatan.

Nyata-nyatanya, belain muslim Uighur aja ga bisa, belain muslim Rohingya aja ga bisa, belain muslim di India juga ga bisa, apalagi belain muslim di Palestina.

Kayaknya sulit betul ummat ini bangkit.

Tapi kalau melihat sejarah, iyaa sejarah perjalanan ummat ini. Sesuatu yang sifatnya mustahil, dan sulit betul itu.. itu bisa jadi "mungkin". Itulah kenapa saya sangat suka membaca dan mempelajari sejarah.

Ketika kita membaca sejarah masa lampau, kita seperti membaca berbagai peristiwa masa depan dengan semua rinciannya. Hal itu karena memang peristiwa-peristiwa masa depan tentu tidak akan terjadi kecuali berdasarkan sunnatullah yang telah pasti, yang ditetapkan Allah dalam proses pergantian berbagai bangsa serta perubahan keadaannya.

Dan terkadang kita juga harus memperhatikan, dan melihat visi besar kehidupan ini. Kita sedang berjalan dimana, tentu agar mengetahui ke arah mana kita akan sampai. Seorang mukmin yang berakal adalah orang yang tidak memulai dari nol sehingga hanya mengulangi apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Seharusnya mereka cukup memperhatikan sejarah mereka, kemudian berjalan di atas jalan mereka yang benar sehingga ia meraih keberhasilan, dan menghindari jalan mereka yang salah dan keliru.

Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Shalahuddin Al Ayyubi, Saifuddin Qutuz, Muhammad Al Fatih, Maulana Maghribi, Pangeran Diponegoro dan tokoh sejarah lainnya merupakan produk dari pembentukan besar generasi. Karena tidak mungkin suatu tokoh muncul dan datang secara tiba-tiba tanpa sebuah proses, tanpa memenuhi kaidah sebab akibat sebagaimana sunnatullah dalam kehidupan ini.

Lalu, sekarang kembali ke pertanyaan awal, kalau memang kejayaan ummat Islam itu perlu untuk diikhtiarkan, maka mau kah kita ambil bagian dari pembentukkan generasi terbaik itu? Mulai dari perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai kepada tingkatan tertinggi yaitu ustadziyatul 'alam. Kita butuh sesekali melihat visi besar itu, agar supaya tidak terlelap dengan gemerlapnya keindahan dunia yang menipu. Agar supaya generasi-generasi setelahnya tidak melulu galau, gundah gulana, dan terjebak dalam virus-virus cinta remaja yang menggelincirkan. Serta agar supaya kita bisa menciptakan tokoh-tokoh itu, kalaupun bukan dari rahim keturunan kita, setidaknya hal ini bisa menjadi pelepas tanggung jawab dihadapan Allah, bahwa kita memiliki andil dalam memperjuangkannya.


Ditulis di Pinggiran Danau Kenanga UI
Kamis, 5 Maret 2020
16.45 WIB