Kamis, 12 Maret 2020

Ikhlas Beramal

Ada sebuah kisah, mungkin kisah ini cukup masyhur dikalangan kawan-kawan semua. Terlepas kisahnya nyata atau fiktif, terlepas ada kesamaan kisah dengan yang lain itu adalah perkara lain. Yang menjadi titik tekan disini adalah hikmah dari kisahnya. Kurang lebih kisahnya begini,

Ada seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang seeekor ikan arwana merah dengan takjub

Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya..
"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..
"Tidak tahu". Jawab si Santri.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah". Perintah sang Kyai.

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang Kyai.
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai.
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap.

"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi.
"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..

"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai.
"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu.

"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi.
"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa ia menawar ikannya?".
"50 juta Rupiah Kyai".

Santri tersebut terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda.

-------------------
Dari kisah tersebut, setidaknya kita bisa mengambil beberapa hikmah, bahwa kita itu akan dinilai dan dihargai dengan benar ketika kita berada di lingkungan yang tepat. Maksudnya begini,

Pertama, kita semua sebenarnya adalah orang biasa dalam pandangan orang yg tidak mengenal kita. Maka jangan baper, juga jangan ke gr an. Kedua kita adalah orang-orang menarik dimata orang yang memahami kita. Dan kita, juga adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang yang mencintai kita

Tapi sebaliknya,

Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi pribadi yang tidak menyukai kita. Juga, kita adalah pribadi yg jahat dalam tatapan orang yg iri dengan kita. Memang pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangan nya masing-masing. Maka jangan berlelah-lelah untuk memoles diri seolah-olah bertampak baik (pencitraan) padahal kenyataannya tidak demikian.

Kalau mau berbuat baik, yaa berbuatlah tanpa harus diketahui orang lain. Yang penting adalah bahwa bagaimana kita berusaha untuk melakukan kebaikan, apapun itu dengan penuh keikhlasan. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar