Maksudnya begini, dari kalimat tersebut setidaknya dibagi jadi 2 bagian:
1) Percaya dan berserah diri, menyandarkan urusan, hanya pada Allah, dan
2) Melakukan sebab (ikhtiar).
Hilang satu dari dua hal tersebut bisa dibilang cacat setiap prosesnya.
Jika kita hanya melakukan poin nomor satu, dan ngga melakukan poin nomor dua (ikhtiar), itu seolah kita menyuruh Allah SWT menyelesaikan semua permasalahan kita, tapi kita-nya diem-diem saja. Ibaratnya mah itu kayak memperlakukan Allah SWT seperti pembantu, kita suruh-suruh, tapi kitanya diem ngga berusaha. Bukannya Allah SWT ngga bisa menyelesaikan masalah kita, tapi attitude kita terhadap-Nya yang salah.
Pun jika kita cuma memaksimalkan ikhtiar, poin nomor dua, lalu bergantung pada ikhtiar tanpa adanya rasa bergantung dan pengakuan akan kelemahan diri dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT, maka kita akan jatuh setidaknya pada satu dari dua jurang. Kekecewaan yang menjatuhkan ketika kita diberi kegagalan, atau kesombongan yang melenakan ketika kita diberi keberhasilan. Bahkan ketika kita merasa ikhtiar kita sudah maksimal, pekerjaan kita anggap enteng, dan merasa bahwa kita mestinya bisa menyelesaikan masalah dengan maksimal, perasaan itu harus segera kita singkirkan. Diganti dengan rasa tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar