Rabu, 29 April 2020

#6 Cerdas Beramal

Ibnu Athaillah berkata,
"Semakin lama, hitungan harimu memang semakin banyak. Tapi pada hakikatnya, setiap hari berkurang terus dan semakin mendekati batas akhir, kematian."

Kalau boleh saya buat sebuah garis yang sangat panjang dari ujung kiri ke ujung kanan, kawan-kawan bisa membayangkan garis ini kira-kira menggambarkan kehidupan kita, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, beranjak dewasa dan sampai dengan hari ini. Kalau misalnya saya teruskan garis ini, terus dan terus, maka ujungnya adalah kematian. Itu adalah sebuah kepastian, hal yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Mau kaya, miskin, sehat, sakit, pejabat, gelandangan, nu, muhammadiyah, apapun itu ujung-ujungnya pasti mati.

Ada sebuah nasihat menarik, bahwa kita harus cerdas dalam beramal shalih. Maksudnya begini, ada orang shalat; shalat-shalat fardhu, shalat tahajud, shalat witir. Cerdas? Belum tentu, karena setelah dia selesai shalat, misalnya mati, habis mati, amalnya ngga mengalir. Orang yang rajin shalat, sehabis mati putus. Baca Yasin, baca Al Kahfi, baca Qur'an, setelah meninggal dunia maka putus pula ia.

Tapi kalau cerdas, beramallah dengan cerdas. Jadikan setiap amalan kita, aktivitas kita, apapun itu bisa menjadi jalan kebaikan untuk orang banyak. Hanya dengan begitu kita bisa memperoleh pahala kebaikan dengan skala yang massif. Amal jariyah inilah salahsatu persiapan kita menghadapi hari kematian.

Dan bulan ramadhan ini sebetulnya sebuah momentum. Momentum bagi diri kita agar setiap pahala kebaikan kita dilipat gandakan. Momentum untuk memperoleh pahala dengan skala yang sangat massif. Plus berharap dan berusaha mendapatkan sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangkan bagaimana setiap amalan kita bagaikan beramal selama 80 tahun tanpa henti. Mumpung masih ramadhan, yuk kita coba maksimalkan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar